[One-Shot] Quarantine Days’ Life

“Sekian untuk rapat hari ini.”


Anzaki menekan ikon bertuliskan End Meeting dan menutup aplikasi konferensi video miliknya itu. Kedua tangannya direnggangkan ke atas dan meluruskan punggungnya yang sempat kaku selama dua jam.


.

.

.

.

.

.


Quarantine Days’ Life

By thebasecamp10

.

.

.

.

.


Anzaki keluar kamar dengan pakaian yang sukses membuat Yukina, sang anak semata wayangnya terbahak hingga mengeluarkan air mata. Bagaimana tidak, bagian atasnya menggunakan kemeja biru langit, dasi bermotif kotak-kotak dengan warna gelap, dan blazer berwarna hitam sementara bagian bawahnya hanya menggunakan celana pendek bermotif taiyaki, kue ikan favoritnya. Ini adalah outfit yang selalu dipakai setiap ada rapat internal perusahaannya melalui aplikasi konferensi video miliknya. Aneh? Bodo amat, toh hanya kelihatan bagian atasnya saja. Lagipula, Anzaki pernah memergoki salah satu kepala bagiannya yang mengikuti rapat hanya dengan piyama dan gaming earphone yang masih terpasang di telinganya. Dia yakin, anak buahnya ini pasti habis main game semalam suntuk. 


Jadi, kenapa harus terlalu resmi? Ah sudahlah.


Pandemi akibat virus yang berhasil menjangkiti beberapa negara -- termasuk Jepang ini membuat pemerintah menerapkan kebijakan WFH alias bekerja di rumah. Otomatis, beberapa perusahaan harus dihentikan kegiatan operasionalnya dan para pegawai harus bekerja di rumah agar dapat menekan kasus positif yang semakin meningkat. Winterland Corp pun terkena imbasnya dan membuat sang presdir sekaligus CEO perusahaan ini, Anzaki harus putar otak agar perusahaannya tetap berjalan meskipun harus menanggung kerugian materiil cukup besar. 


Kegiatan Anzaki selama masa karantina ini tidak jauh-jauh dari kamar, ruang tv, dan dapur. Di kamar, Anzaki akan mengadakan online meeting membahas soal rencana kerja mereka selama pandemi ini sekaligus laporan dari petugas lapangan. Yap, beberapa pegawainya ada yang tetap masuk ke kantor karena mereka harus mengecek properti-properti milik perusahaan dan juga tetap melaksanakan kegiatan jual beli properti. Kali ini, tidak hanya pusing dengan pasang surut keuntungan, Anzaki juga turut pusing dengan keadaan para petugas lapangannya dikarenakan ada beberapa pegawainya yang dikarantina karena statusnya sebagai ODP maupun PDP. 


Bagaimana dengan dapur dan ruang tv? 


Dua ruangan itu menjadi saksi bisu dimana Anzaki mengambil peran sebagai bapak rumah tangga selama masa karantina. Karena sang istri, Fuyushima Yuuki tidak bisa menerapkan WFH dan harus pergi ke toko kuenya, maka Anzaki yang harus mengerjakan pekerjaan rumah dan menemani Yukina yang libur sekolah akibat pandemi. Untungnya, Anzaki bukanlah pria yang  manja dan bergantung pada istri. Dia bisa mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan tuntas -- kecuali memasak. Maklum, Anzaki tidak pandai memasak. Pria itu tidak mau membuat dapurnya meledak akibat keteledorannya sendiri. Begitu selesai, Anzaki akan bermain bersama Yukina di ruang tv. Mau nonton bersama, bermain kartu, atau hanya sekadar mengobrol santai sambil ngemil.


Pria berwajah ikemen itu juga mengkhawatirkan keadaan istrinya, bahkan sering menyusul hingga ke distrik Ginza -- tempat dimana toko kue istrinya berada. Meskipun Anzaki paham jika toko itu hanya melayani pesan antar kue, namun tetap saja dia khawatir. Bisa saja pegawai tokonya itu terjangkit virus dan menularkannya pada istrinya? Amit-amit, Anzaki tidak mau membayangkannya. 


Yuuki sendiri sudah tidak aneh jika suaminya ikut menyusul ke tokonya. Justru dia malah senang jika suaminya datang, setidaknya ada moodbooster meski angka penjualan kuenya menurun drastis. Hanya satu yang membuat Yuuki sedih, dia tidak bisa memeluk dan mencium Anzaki seperti biasa baik di toko maupun di rumah mereka. Ini semua akibat penerapan physical distancing yang membuat mereka harus menjaga jarak. Mau ciuman saja harus mandi dan ganti baju dulu, capek deh.


“Touchan, ganti baju deh!” teriak Yukina di sela tawanya yang membuat Anzaki tersadar dari lamunannya. Dengan ekspresi butek, Anzaki pun berbalik dan langsung mengganti bajunya. 


~000~



Adegan petualangan di negeri ajaib itu sudah mencapai klimaksnya. Yukina tampak berseri-seri saat menonton sementara Anzaki memasang ekspresi stoic sembari mengunyah kacang garing perlahan. Hari ini adalah hari ke-16 masa WFH dan kegiatan Anzaki setelah rapat daring itu adalah menemani Yukina menonton film favoritnya. Menonton film anak-anak dengan alur cerita yang cepat dan mudah ditebak tentu saja membuat Anzaki bosan. Mending nonton pertandingan olahraga atau dokumenter, pikirnya begitu. 


“Touchan, filmnya udah selesai. Yukina mau nonton kartun yang lain ya?” pinta Yukina sambil menarik helaian kaos ayahnya itu berulang-ulang. Anzaki menatap gadis kecil itu dengan tatapan datar. 


“Kartun apa?” tanyanya lagi. 


“Kartun kuda poni petualang!”


Anzaki mengangguk pelan sambil mengoper channel televisinya berulang-ulang. Begitu channel tujuan sudah ditemukan, Yukina kembali anteng dan memakan kacang garing yang sudah habis setengah karena dimakan sama ayahnya itu. Pria itu menonton tayangan kartun itu dengan tatapan nanar. Selama 16 hari di rumah, Anzaki sudah bisa menghapal siapa nama kuda poni yang menjadi protagonisnya dan juga karakter pendukungnya saking seringnya menemani Yukina menonton kartun ini. 


"Touchan, udah jam berapa ya? Apa makan siang sudah ada?" tanya Yukina mendadak. 


"Sudah ada. Kaachan sudah menyiapkannya sebelum berangkat ke toko. Kita tinggal memanaskannya saja." jawab Anzaki enteng. "Kenapa? Sudah lapar?" 


Yukina menggeleng pelan saat itu. "Nggak. Yukina cuman gak mau ngeliat kejadian seminggu yang lalu." 


Anzaki meringis keki. Kejadian kocak nan memalukan itu terjadi seminggu yang lalu, dimana Yuuki lupa memasak makan siang untuk mereka dikarenakan ada orderan mendesak di tokonya. Anzaki mencoba peruntungan dengan memasak ikan goreng dan juga sop miso. Tidak ada hambatan saat memasak sop miso karena hanya memasak sop miso instan, namun petakanya justru saat menggoreng ikan. 


Ikan yang sudah dimarinasi itu digoreng begitu saja di wajan. Banyak percikan minyak panas yang membuat Anzaki kalang kabut -- bahkan tangannya sempat kena percikan minyak dan membuat pria itu menjerit histeris. Pada akhirnya, Anzaki menggunakan tutup panci sebagai tameng dan spatula sebagai senjatanya. Berpakaian kaos oblong, celana boxer bermotif, memakai celemek berwarna pink pastel dan bersenjatakan tutup panci dan spatula. Pemandangan yang langsung menjatuhkan imej seorang Fuyushima Anzaki yang terkenal sebagai CEO ikemen berwibawa dan bertalenta.


Mirisnya, sudah berbekal senjata seperti itu tidak membuat Anzaki bisa menggoreng ikan dengan mulus. Yang ada, ikan itu berubah menjadi arang karena terlalu gosong dan tidak bisa dimakan. Akibatnya, Yukina dan Anzaki hanya bisa memakan sop miso dan menyeduh ramen instan bersama-sama. Insiden itu membuat Anzaki tengsin berat, bahkan pria itu harus puas diketawain sama istrinya selama sejam.


"Jangan ingetin itu dong." gumam Anzaki bete. Yukina hanya manyun dan kembali fokus dengan kartun kesukaannya.


Bosan dengan tayangan kartun di depannya, akhirnya Anzaki berjalan ke kamarnya dan menyalakan komputernya lagi. Yang dia lakukan saat ini adalah membaca artikel berita terkini di internet. Beritanya justru berita yang kurang mengenakkan seperti bertambahnya kasus positif, rasio kematian dengan kesembuhan yang masih timpang, ditambah lagi dengan krisis alat pelindung diri buat tenaga medis. Sesaat Anzaki teringat dengan keadaan di Hakuryuu dan membuat pria itu langsung mengambil ponselnya dan menelpon sahabat sekaligus asistennya, Kazumachi Takeru.


Jika dilihat dengan kondisi sekarang, Hakuryuu pun juga ketiban apes. Meskipun klan yakuza yang dipimpin Anzaki ini tajir tujuh turunan, bukan berarti mereka lega begitu saja. Anzaki memerintahkan pada anak buahnya untuk memberikan bantuan berupa alat pelindung diri kesehatan untuk beberapa rumah sakit di wilayah Tokyo dengan jumlah yang cukup banyak -- setidaknya pihak rumah sakit tidak uring-uringan karena kekurangan alat pelindung diri. Tidak hanya itu saja, Anzaki memberlakukan lockdown di kawasan rumah Hakuryuu dikarenakan beberapa penghuni disana sudah berusia lanjut, termasuk Himika. Takeru dan Tsukasa, dua anak buah Anzaki yang bisa pergi keluar dikarenakan pekerjaan mereka namun mereka tidak bisa kembali ke rumah Hakuryuu agar tidak terjadi penularan. Pada akhirnya, mereka tinggal di kawasan kondominium elit dimana Anzaki dan keluarga kecilnya tinggal. 


Hakuryuu di area Shinjuku dan Roppongi juga sama apesnya. An bernasib sama seperti Anzaki -- melakukan WFH sekaligus menjadi ibu rumah tangga sementara sang suami, Yuu Scarblaze tetap bekerja di toko meski hanya membuat kue untuk layanan pesan antar. Kazu sendiri juga menghabiskan waktunya di rumah karena kafe kopinya tutup, beruntung Kazu punya pekerjaan sampingan secara daring sehingga dirinya masih memiliki kesibukan lain. Satu-satunya anggota Hakuryuu yang sangat sibuk adalah Shiga. Sudah jelas, dia adalah dokter sekaligus direktur rumah sakit yang harus berada di barisan terdepan dalam penanganan pandemi ini. Berhubung rumah sakitnya adalah salah satu rumah sakit rujukan, maka semakin padat kegiatan Shiga disana. Yang cukup mengkhawatirkan adalah ketika Shiga mengeluh karena jumlah pasien yang semakin meningkat dan membuatnya kelelahan maksimal melalui chat pribadinya dengan Anzaki. Pemimpin klan itu merinding, seorang wakil pemimpin klan yang tenang itu akhirnya mengeluh dengan kondisinya sendiri. Ini sungguh sangat super serius!!!


“Takeru, lo dimana?” tanya Anzaki begitu terdengar suara halo di ujung sana. 

 

“Gue? Lagi di konbini tempat Tsukasa bekerja. Ada apa?” balas Takeru sambil menenteng keranjang belanja di konbini. 


“Gimana kabar lo? Gimana kabar Tsukasa? Ada kabar soal kondisi terkini dengan rekan-rekan kita? Trus Maeda kondisinya gimana?” tanya Anzaki dengan sekali tarikan napas. Takeru langsung bengong saat mendengar seluruh pertanyaan itu dan entah mau menjawab yang mana. 


“Takeru? Woy!”


“Apa sih!? Lo ngomongnya pelan-pelan, njir! Kek gimana gue mau jawab kalo pertanyaannya banyak?” seru Takeru tidak kalah ngegasnya. 


“Huft, oke oke. Keadaan Hakuryuu gimana?”


“Oh, keadaan masih aman kok. Himika-neesan, oyaji, dan petinggi-petinggi Hakuryuu masih sehat. Tapi kalo soal Maeda--”


“Hah? Gimana dia?”


“-- dia positif. Jadinya dia dikarantina di rumah sakitnya Shiga-sensei.”


Anzaki langsung memijit pangkal hidungnya dan memasang ekspresi gundah. Inilah yang Anzaki takutkan, anak buahnya jatuh sakit dan harus dikarantina. Maeda sendiri adalah anggota Hakuryuu yang berdomisili di Roppongi. Sudah jelas jika dia adalah bawahannya Kazu. Namun Anzaki juga tetap harus memperhatikan keadaan seluruh anak buahnya karena dia adalah pemimpin pusatnya.


“Kazu sudah tau soal itu?” tanya Anzaki lagi.


“Sudah. Dia sudah tau. Untuk saat ini, dia sudah menghubungi anak buahnya untuk tetap tinggal di rumah masing-masing dan menjaga kesehatan.”


“Ya sudah. Lo sama Tsukasa jaga kesehatan juga. Jangan sampe sakit ya.”


“Lo juga, Anzaki. Gak lucu kalo bos gue juga sakit.”


Anzaki menghela napas panjang. Meskipun ada kabar buruk, namun setidaknya tidak separah yang dia bayangkan.


~000~



Yuuki baru saja sampai di rumahnya dan langsung melepas sepatunya. Langkahnya dipercepat dan langsung menuju kamar mandi tanpa menyapa penghuni rumah terlebih dahulu. Begitulah peraturan di rumah ini semenjak masa karantina, harus langsung pergi membersihkan diri setelah beraktivitas di luar rumah. Begitu selesai bersih-bersih, barulah bisa menyapa penghuni rumah seperti biasa. Meskipun Yuuki sudah melakukan ini selama 16 hari ini, namun wanita itu tetap gemas karena tidak bisa leluasa melakukan kebiasaannya dengan sang suami yaitu memberikan kecupan setelah pulang kerja secara langsung.


Sebenarnya Yuuki masih bisa mencium Anzaki kok, hanya saja prosesnya cukup berbelit-belit.


Begitu Yuuki selesai membersihkan dirinya, dia keluar dari kamar mandi sambil membawa bajunya yang akan dimasukkan ke keranjang di ruang laundry. Setelah menuntaskan semua kegiatan barusan, Yuuki langsung ke kamar untuk berpakaian dan pergi ke ruang tv -- dimana Anzaki dan Yukina berada. 


“Tadaima-- WHAAAAAAA!!”


Suara yang naik dua oktaf itu sontak mengejutkan Anzaki dan Yukina disana. Yuuki tidak menyangka jika dia disambut oleh pemandangan yang sukses membuatnya berteriak dan terheran-heran.


“Okaerinasai, kaachan! Lihat deh, bagus kan?” ujar Yukina sambil mengayunkan kuas wajah dengan riang. Yuuki yang awalnya bengong cukup lama akhirnya terbahak. 


“Jangan tertawa seperti itu, Yuuki. Gue jadi malu…” gumam Anzaki dengan nada menggerutu.


Pemandangan ini sungguh lucu dan terkesan konyol. Anzaki menyanggupi keinginan Yukina untuk bermain merias wajah dengan alat kosmetik yang Anzaki miliki. Kotak kosmetik yang Anzaki gunakan untuk penyamaran saat tugas spionase itu menjadi alat praktek gadis kecil itu pada hari ini. Sebagai objek percobaan -- atau lebih tepatnya penderita -- disini, Anzaki pasrah ketika anak semata wayangnya itu mengoleskan banyak foundation, menaburkan bedak di sana-sini, dan mengoleskan lipcream setebal mungkin di bibirnya. Hasilnya sungguh menggugah hati dan sanubari, begitu kata Anzaki untuk membesarkan hati si gadis kecil kesayangannya -- walau kenyataannya dia tengsin karena wajahnya mirip seperti monster banci. 


“Ahahahaha hmmmmm, bagus kok. Cuman ya jangan terlalu tebal, sayang. Kesian Touchan.” kata Yuuki setelah berhenti tertawa. Bukannya membantu Anzaki untuk menghapus make-up ala Yukina, Yuuki malah mengabadikannya dengan ponsel pintarnya. 


“Yuuki! Jangan difoto!” seru Anzaki bete. Dia berusaha meraih ponsel itu, namun dia kalah cepat dengan Yuuki. 


“Maaf Anzaki sayang, tapi aku gak bisa melewatkan ini.” balas Yuuki sambil tersenyum jahil. “Tenang saja, fotomu aman padaku kok. Hehehehe.”


Anzaki hanya memasang ekspresi bete saat dibilang begitu. Menyadari mood Anzaki yang terjun bebas, Yuuki langsung mengambil beberapa kapas dan membasahinya dengan micellar water untuk membersihkan wajah suaminya itu. 


“Kaachan, nanti ajari Yukina untuk berdandan ya?” pinta Yukina mendadak. Yuuki yang baru selesai membersihkan wajah suaminya langsung terpaku lalu menatap sang anak dengan tatapan super manis. 


“Iya, nanti kaachan ajari.” jawab Yuuki singkat. Gadis kecil itu bersorak dan memeluk kedua orangtuanya itu sebelum akhirnya mulai membereskan alat kosmetik yang dia gunakan tadi. Begitu selesai, dia pun membiarkan kotak itu berada di samping Anzaki lalu berjalan riang ke arah kamar tidurnya. Di saat itulah, Yuuki dan Anzaki saling berpandangan. 


“Oh, lo mau tau kenapa? Yukina baru saja menonton film dokumenter tentang MUA.” ujar Anzaki yang seakan-akan memahami maksud pandangan istrinya itu. 


“Yukina mau jadi make-up artist?” tanya Yuuki heran. 


“Mungkin? Dia masih anak-anak, dia hanya mencoba saja dan ini masih dalam batas wajar. Lagipula, bukannya bagus jika Yukina mulai memahami hal-hal tentang gendernya sendiri?” 


“Uh, iya sih…” gumam Yuuki sedikit tengsin. Anzaki tersenyum melihat istrinya itu dan memeluk tubuh wanita itu cukup erat. 


“Okaerinasai, Yuuki. Gimana dengan kondisi toko?” 


“Hm, yah sepi begitu deh. Seperti biasa.” gumam Yuuki enteng. “Tapi untungnya masih ada orderan beberapa kue untuk acara ulangtahun di rumah masing-masing.” 


“Baguslah.” gumam Anzaki sambil mengajak Yuuki duduk di sofa. “Gue bikinin minuman hangat, ya. Mau teh chamomile?” 


“Mau. Apapun yang Anzaki buat, aku suka kok.”


Anzaki mengangguk pelan. Pria itu berjalan ke dapur dan menyiapkan teh chamomile untuk mereka berdua. Tidak perlu waktu lama, Anzaki kembali dengan dua cangkir kosong dan teko berisi teh chamomile di atas nampan. Begitu teh diletakkan di meja, Anzaki menuangkan teh itu di cangkir dan memberikannya pada Yuuki. 


“Makasih ya, sayang. Anzaki begitu keren saat membawa teh tadi.” gumam Yuuki sambil tersenyum lebar. 


“Yah….” Anzaki menanggapi dengan senyuman. “Eh iya, ini sudah hari ke-16 WFH ya….”


“Kenapa memangnya?”


“Hmm, keadaan malah semakin memburuk, gue rasa. Anak buah kita di Hakuryuu malah ada yang positif satu orang. Tau kan? Maeda di cabang Roppongi…”


“Astaga! Lalu gimana tuh? Udah dikarantina?” tanya Yuuki khawatir. 


“Udah. DIa berada di rumah sakitnya Shiga-sensei.” jawab Anzaki sambil menuangkan teh untuk dirinya sendiri. “Huft, kapan ini akan berakhir ya…”


“Iya ya, sejak pandemi, banyak orang-orang ketakutan dan sedih. Tidak hanya itu, omset toko juga ikut menurun. Malahan ada beberapa toko yang memecat pegawainya karena gak bisa membayar gaji mereka. Sedihnya…” gumam Yuuki dengan nada sedih. Anzaki menyeruput teh itu sedikit dan memandang sang istri dengan tatapan sayu. 


“Gue juga gak mau kalo harus memecat pegawai gue hanya karena krisis saat pandemi.” balas Anzaki lagi. “Mencari karyawan yang berintegritas tinggi dan berpengalaman itu sangat sulit. Begitu juga bagi para pegawai itu, mereka akan sulit mencari pekerjaan yang sesuai jika mereka dipecat. “ 


“Keadaan Winterland juga agak memburuk ya?” 


“Yep, angka penjualan lagi turun drastis. Bagaimana tidak, para calon klien tidak bisa sembarangan keluar rumah hanya untuk mencari hunian. Selain itu, pegawai lapangan gue ada yang harus dikarantina juga karena statusnya ODP dan PDP. Gak cuman Winterland, Shibusign milik An juga sedang krisis sebenarnya karena berkurangnya orderan.”


“Aaaaaah, kapan ini berakhir ya.” gumam Yuuki setelah menghabiskan tehnya lalu menatap langit-langit. “Biar semuanya bisa kembali beraktivitas tanpa takut karena penyakit. Selain itu juga--”


“Selain itu?” Anzaki penasaran dengan kata terakhir itu. Yuuki tersenyum ke arah Anzaki dan wajahnya sedikit kemerahan. 


“Aku ingin bisa menciummu lagi setelah pulang kerja secara langsung. Rasanya kesal sekali jika aku tidak bisa mencium dan memelukmu secara langsung karena pandemi.” 


Anzaki terkekeh pelan saat mendengar ucapan itu. Benar juga ya, pikirnya. Akibat pandemi ini, ada beberapa hal yang berubah dan membuatnya tidak nyaman. Anzaki pun berharap semoga pandemi ini bisa selesai dan semua orang bisa beraktivitas seperti sedia kala. Semoga saja…


~000~


Posting Komentar

0 Komentar