Chapter 8 (section 4)

 


“Kuliah di Bandung? Boleh juga tuh.”


“Ya kan? Soalnya dekat rumah. Aku bisa sekalian pulang tiap weekend.” 


“Keknya tanggung ya kalo tiap weekend. Lebih enak kalo Aldiana udah kerja di Bandung ya.” 


“I-iya bener sih….” 


Aldiana tengah duduk di kursi dekat pintu menuju aula kelurahan sambil menelpon seseorang. Ekspresinya tampak bingung dan sesekali berpikir keras, seakan-akan pembicaraan itu sangat berat baginya. Setelah ada setengah jam berbincang-bincang, akhirnya telepon itu berakhir dan gadis itu memasukkan ponselnya di saku bajunya.


“Oh, ternyata dek Aldiana disini.” kata Tirta yang baru saja akan berjalan ke arah dapur dan mendapati Aldiana tengah duduk di dekat pintu aula. Gadis itu tersenyum kecil sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. 


“Serius sekali ya. Tadi menelpon siapa?” tanyanya lagi. 


“Ah, iya. Tadi menelpon keluarga aja, lagi kangen-kangenan gitu deh.” jawab Aldiana tanpa menyebutkan maksud sebenarnya. Tirta pun mengangguk paham sebagai respon. 


“Termasuk ngebahas soal lanjut kuliah juga?” 


“Hmmmm, yaaaah begitulah….” balas Aldiana dengan nada menggantung, walau pada kenyataannya sudah diketahui oleh Tirta. 


“Baguslah kalo begitu. Memang lebih baik lanjutin sekolah dulu mumpung ada yang membiayai.” kata Tirta mendukung niat Aldiana itu. “Mumpung masih muda dan single kan ya?”


Aldiana mengangguk pelan. “Iya pak, mumpung masih muda. Untung saja diingatkan sama sasuh untuk kuliah lagi.”


“Diingatkan?” alis Tirta naik sesenti. “Memangnya kenapa?”


“Saat masih magang di provinsi, aku dan sasuh janjian untuk bisa lanjut kuliah di kota besar seperti di Bandung. Namun karena aku pindah kesini, niat itu sempat tidak terpikirkan olehku lagi karena terlalu terlena dengan pekerjaan.” 


Tirta mengangguk pelan saat mendengar cerita itu. “Untung diingatkan ya. Sasuhmu baik sekali ya, saling mengingatkan gitu.” 


Gadis itu tersenyum kecil saat dibilang begitu. Dia pun langsung berdiri dan berkata pada sekretaris lurah itu, “Aku juga bersyukur, pak. Aku akan menyiapkan seluruh persyaratan untuk daftar kuliah nanti.” 


“Bagus kalo begitu. Semangat ya.” 


Aldiana pun berjalan masuk ke dalam ruangan dan meninggalkan Tirta disana. Melihat stafnya itu berlalu, barulah Tirta berjalan ke arah dapur dan mengambil gelas untuk minum. 


“Coba saja jika saya melakukan hal yang sama beberapa tahun yang lalu….” bisiknya pelan. 


~000~


Chapter 8 - the end -

Posting Komentar

0 Komentar