Aldiana, Moty dan Tirta menatap orang yang baru saja datang ke kantor mereka. Orang itu -- seorang pria berusia sekitar 30-40 tahun dengan menggunakan pakaian jins dan kaos polo lama -- membawa beberapa lembar kertas sembari tersenyum pada para pegawai. Dengan langkah perlahan, dia mendekati meja pelayanan dan menaruh berkasnya di atas meja.
“Ada yang bisa saja bantu?” tanya Aldiana sambil berdiri dari bangkunya.
“Begini, bu…” kata pria itu sambil menarik napas panjang. “Hari ini masih bisa daftar pelaku UMKM gak? Kebetulan saya bawa persyaratan punya saya dan teman-teman lain.”
“Sebentar lagi mau dikirim ke dinas, pak.” jawab Aldiana dengan ramah. Dia pun melirik ke arah persyaratan itu dan menaikkan alisnya sebelah. “Sebanyak ini?”
Pria itu menyeringai sambil menggaruk kepalanya dengan sedikit uban di atasnya. “Sebelumnya, kami ini ikut daftar ke Pak Ande. Tapi ternyata dinas menyarankan didaftarkan ke kelurahan saja.”
“Pak Ande? Anggota dewan itu?” tanya Tirta sambil membenarkan kacamatanya. Yang ditanya hanya mengangguk pelan. Ketika Tirta dan pria itu tengah berbincang-bincang, Aldiana dan Moty mengecek persyaratan yang dimaksud. Di saat itu, jidat mereka berkerut saat melihat surat keterangan usaha milik pria itu dan teman-temannya. Mereka saling berpandangan lalu Aldiana mulai mencocokkan data miliknya dan buku register surat dengan data baru itu. Seketika, Aldiana langsung menginterupsi perbincangan pria itu dengan Tirta.
“Pak, maaf sebelumnya.” interupsi Aldiana ketika mereka masih mengobrol.
“Ng, iya? Gimana bu?”
“Ini ada 10 orang ya. Datanya memang belum ada di database yang saya miliki. Selain itu--”
Aldiana dan Moty mengambil surat keterangan itu dan dijajar di atas meja. Ekspresi Tirta langsung tegang ketika melihat surat keterangan itu, begitu juga dengan pria itu. Aldiana menatap pria itu cukup lama.
“Kapan bapak dan rekan-rekan lainnya membuat surat ini? Di buku register surat, tidak ada nama orang-orang ini. Lalu kenapa bisa ada surat keterangan ini?”
Pertanyaan Aldiana itu sukses membuat ruang pelayanan hening. Pria itu saling berpandangan dengan pegawai kelurahan seakan-akan ada sesuatu yang dia sembunyikan.
~000~
to be continued

0 Komentar