Chapter 9 (section 4)



Surya berlari menuju kelurahan dengan tergesa-gesa. Setelah ditelpon oleh Tirta, lurah muda itu langsung meninggalkan kecamatan meski rapat masih berlangsung. Karena Surya pergi tanpa membawa kendaraannya, mau gak mau dia harus berlari menuju kantornya. Begitu sampai kelurahan, Surya langsung masuk ke ruangan Tirta dan melihat semuanya tengah berkumpul.


"Ah, halo…." sapa Surya terengah-engah. Moty yang kaget dengan penampilan pimpinannya itu langsung berdiri dan mendekatinya. 


"Pak, duduk dulu! Kami ambilkan minum dulu!" seru Moty rempong dan mengajak Surya keluar dari ruangan, sementara Aldiana ikut menyusul mereka. Tirta yang melihat pemandangan itu hanya menggelengkan kepala. 


"Itu siapa, pak?" tanya pria yang membawa surat keterangan palsu yang sedari tadi duduk terdiam. 


"Itu lurah disini." 


"Ma-masa? Saya kira dia bukan orang Indonesia…." 


Sementara itu di ruangan lurah, Surya duduk di kursinya sambil membuka satu kancingnya lalu menyalakan kipas angin mini yang ada di mejanya. Aldiana pun masuk ke ruangannya sambil membawa segelas air mineral dingin. 


"Niat banget larinya…." kata Aldiana sedikit menggoda Surya. Pria itu hanya mendengus pelan. 


"Abisnya Tirta bilang itu sangat darurat sih. Aku sampe ninggalin rapat tuh." ujar Surya sambil mengarahkan kipas angin ke lehernya. Aldiana memperhatikan Surya cukup lama dan wajahnya langsung muncul semburat merah tipis. Entah kenapa, dia terlihat tampan saat ini. 


"Eh iya, bisa ceritain kronologisnya gak?" tanya Surya mendadak. 


“Ah, itu--”


“Ada seseorang membuat surat keterangan palsu, pak!” seru Moty yang baru masuk ke ruangannya sambil membawa tisu untuk Surya. Mata Surya membesar sementara Aldiana menaruh jari telunjuknya di bibirnya sendiri karena volume suara Moty yang cukup besar.


“Motyyyy jangan keras-keras!” seru Aldiana dengan suara tertahan. Moty yang menyadari hal itu langsung menutup mulutnya. 


“E-eh, sori…”


“Ooooh begitu ya. Terus gimana? Bhabinkamtibmas sudah diberitahu?” tanya Surya lagi dengan santai.


“Sudah. Katanya lagi otw kesini.” kata Aldiana. Surya meminum air mineralnya lalu mulai membenarkan kancing bajunya.


“Baiklah, mari kita temui mereka.”


Ketika Surya, Aldiana dan Moty keluar dari ruangan lalu masuk ke ruangan Tirta. Disana tidak hanya Tirta dan pria itu, namun ada dua orang lagi disana. 


“Ah, pak Ardi…” sapa Surya sambil berjabat tangan dengan lawan bicaranya. Ardi, seorang Bhabinkamtibmas kelurahan itu tersenyum lebar saat bertemu dengan lurah itu. 


“Ooooh pak lurah! Gimana kabarnya?”


“Baik pak. Syukurlah semuanya baik.” kata Surya. Dia pun langsung duduk di sebelah Tirta lalu menatap dua orang yang asing baginya lalu surat keterangan di depannya. “Jadi, surat-surat palsu ini mau digunakan untuk berkas pengajuan pelaku UMKM?” 


“I-iya pak.” kata pria itu sedikit gugup. “Saya mah gak tau kalo ternyata itu palsu sampe akhirnya dikasih tau sama bapak ibu disini. Lalu--”


Pria itu menatap ke arah seseorang lainnya yang terdiam cukup lama itu dengan tatapan kesal. “Dia yang ngaku kalo surat ini dari kelurahan. Begitulah.”


Surya mengangguk pelan. Di saat itu, Ardi mengangkat tangannya dan menatap semua orang disana. 


“Dilihat dari barang bukti lalu kesaksian dari pihak kelurahan, tentu saja hal ini sudah masuk ke ranah pidana.”


Ucapan polisi itu membuat dua warga itu memasang ekspresi tegang -- terutama si pembuat surat palsu itu. Bahkan bulir keringatnya mulai membasahi keningnya, entah karena suasana panas di ruangan itu atau karena pernyataan dari polisi.


“Kok bisa gitu ya?” tanya Moty. 


“Karena dia melakukan penipuan pada warga yang meminta tolong padanya, lalu membuat surat palsu, menggunakan tanda tangan palsu dan juga cap instansi palsu. Ini udah lengkap sekali buktinya. Namun--”


“Namun?” Surya menunggu jawaban selanjutnya.


“Ini tergantung pihak kelurahan. Jika ingin diselesaikan dengan cara kekeluargaan, silakan. Jadinya tidak ada campur tangan dari pihak kepolisian. Jika tidak, maka bapak-bapak sekalian harus ikut saya ke polsek untuk memproses kasus ini.”


“A-aaaaah jangan pak!” pekik si pembuat surat itu lirih. “Maaf pak, saya khilaf pak! Janji deh gak bakalan gitu lagi!”


“Setelah bapak membuat puluhan surat ini dan menjanjikan sesuatu pada warga lainnya, bapak baru sadar kalo ini salah besar?” tanya Surya dengan sarkastik. “Seumur-umur saya bekerja sebagai PNS dan menjadi lurah selama dua tahun, baru kali ini saya menemukan kasus seperti ini. Apa alasan bapak membuat surat-surat ini?”


“Uhm--” pria itu terlihat bingung lalu mulai menjawab pertanyaan itu. “Biar gak lama gitu. Kan kelurahan penuh terus pelayanannya.”


“Penuh darimana, bapaaaaak!?” ujar Moty dengan nada kesal. “Bapak sok tau banget kalo disini penuh terus!”


“Disini kalo ada pelayanan adminstrasi itu gak sampe besok selesainya, pak. Paling lama 10 menit, kok. Kalopun ada antrian, gak terlalu lama juga.” timpal Tirta. Surya pun melipat tangannya di dada.


“Bapak bukan orang sini ya?” tanya Surya lagi. Si pembuat surat itu barulah kembali berbicara.

“I-iya pak….”


“Boleh lihat KTP-nya?” tanya Surya sambil mengambil KTP pria itu. Dia pun membacanya lalu mendengus pelan. 


“Pantesan saja.”


“Eh?”


Surya menatap ke semua orang di ruangan itu. “Dia warga dari kabupaten. Sudah diurus kepindahannya disini?”


“Belum, pak.” jawab si pembuat surat itu. 


“Hmmmm, ternyata semakin kompleks ya.” kata Ardi. “Jadi gimana keputusan pak lurah? Mau diselesaikan secara kekeluargaan atau dibawa ke polsek?” 


Surya terdiam cukup lama. Semua orang di ruangan itu mulai mengira segala kemungkinan yang terjadi. Mengingat sikap Surya yang begitu idealis, Aldiana mengira Surya akan memilih untuk membawa orang-orang ini ke polsek terdekat. Tapi apakah mungkin Surya berubah pikiran? 


~000~

Posting Komentar

0 Komentar