Chapter 10 (section 3)

 


"Yesh, makan-makaaaaan!" 


Seluruh pegawai kelurahan bersukacita ketika Surya dan Aldiana kembali sembari membawa makanan pesanan mereka. Ruang pertemuan tengah pun menjadi lokasi acara makan bersama dan Aldiana pun membagikan kotak makan itu pada setiap pegawai. Ketika gadis itu akan memberikan kotak itu pada Timothy, pemuda itu tersenyum begitu lebar.


"Makasih teteh cantiiik!" kata Timothy dengan nada manja. Aldiana pun merespon dengan ekspresi manyun.


"Sudah pada dapat semua kan yah? Kita patut berterimakasih sama Bu Eneng nih…." kata Surya sembari menoleh ke arah Bu Eneng. Yang diajak bicara hanya tersipu malu.


"Ah, gak apa, pak lurah. Kan udah biasa ini." 


"Kalo gitu, mari makaaan!" 


Acara makan-makan itu pun dimulai dan mereka pun makan dengan lahap. Sesekali ada drama kecil ketika Timothy merengek pada Pak Eep untuk meminta saos lebih dan juga Surya yang berdebat dengan Timothy. Aldiana hanya terkekeh pelan melihat keseruan yang terjadi saat makan ini.


"Ah iya, tadi selama kalian pergi, ada cerita menarik ni." kata Tirta setelah meminum soft-drink miliknya.


"Cerita menarik? Pasti tentang warga lagi yah?" tanya Surya. 


"Tentu saja. Interaksi antara masyarakat dengan pelayan publik itu gak selalu monoton, mungkin ini bisa jadi gambaran juga untuk dek Aldiana." 


"Emangnya ada sesuatu yah, pak?" tanya Aldiana penasaran. 


"Hmmm, tadi ada warga yang ingin membuat akta kelahiran untuk anaknya, namun permasalahannya--" 


Aldiana merasa pembicaraan ini semakin intens seketika sehingga dia bergumam dengan spontan, "Masalahnya?" 


"Yah, warga yang ternyata adalah orangtua si anak ini 'menikah di bawah tangan'." 


Aldiana memicingkan matanya. Istilah yang baru didengar olehnya hari ini, pikirnya. Surya pun ikut menimpali pembicaraan mereka. 


"Menikah di bawah tangan itu maksudnya menikah siri." kata Surya singkat.


"Nikah siri?" 


"Iya, menikah secara agama, namun tidak secara negara. Jadi itu tuh kayak dia ijab kabul aja tapi gak bikin buku nikah." kata Tirta sambil melepas kacamatanya sambil mengelapnya dengan lap khusus. Aldiana sempat terpana sejenak melihat Tirta sebelum akhirnya berusaha fokus. 


"Salah satu persyaratan bikin akta kelahiran anak itu kan harus ada buku nikah orangtuanya. Sementara dia ini gak punya. Mau gak mau, dia harus konsultasi ke dinas kependudukan karena kelurahan nggak bisa sembarangan ngasih formulir akta kelahiran." 


"Trus gimana caranya biar anak-anak bisa punya akta kelahiran meski orangtuanya gak punya buku nikah?" tanya Aldiana penasaran. 


"Yah, orangtuanya harus ikut sidang isbat. Hanya saja kalo disini, kegiatan seperti itu nggak sering dilakukan. Biasanya setahun sekali gitu…." 


Gadis itu mengangguk paham. Trivia semacam itu tentu saja tidak pernah diajarkan di kampusnya dulu. Sayangnya Aldiana tidak melihat kejadian itu secara langsung. 


~000~



to be continued



Posting Komentar

0 Komentar